Selamat datang ke MRII Bern.

Kami senang atas kunjungan anda ke website kami. Kami berharap Saudara mendapatkan informasi yang diperlukan dan semoga artikel-artikel yang dimuat dapat menjadi berkat juga. Terlebih lagi, kami berharap bisa bersekutu bersama dengan Saudara di Kebaktian Minggu.

Apa/Siapa MRII Bern


Menghadapi Ujian, Ev. David Tong, Ph.D.

Kej.12:1-13:1-4; 1 Kor.10:13 

Saya percaya, kita semua mengetahui tentang Abraham, Bapa orang beriman itu. Kita semua
mengetahui tentang kisah Abraham dan momen-momen yang paling penting di dalam hidupnya. Apa yang ada di dalam Alkitab bukan dongeng atau cerita yang kita ceritakan kepada anak-anak kita saja, tetapi anak-anak Tuhan yang Tuhan pakai dalam Alkitab adalah satu pelajaran bagi kita untuk menghidupi hidup ini.
Kej.12 adalah panggilan khusus bagi Abram dan firman Tuhan datang kepadanya.
Kej.12 ini menggambarkan dalam kehidupan seorang Kristen ada 4 fase, yakni: 

1) Fase iman. Abram adalah dari orang yang tidak percaya, akhirnya menjadi orang yang percaya, bahkan dia taat untuk mengikuti firman/perintah Tuhan. Abram hidup di Babilonia, kota Ur. Dia adalah seorang pemuja berhala. Tapi orang yang tidak mengenal Allah ini bisa mengenal Allah karena apa? Kej.12 sangat jelas sekali mengatakan kepada kita, karena firman Tuhan datang kepadanya. Doktrin Reformed bukan dimulai oleh Paulus (mulai dari kitab Roma dst). Kalau kita pelajari kitab Kejadian, konsep teologia orang Reformed sudah ada di dalam kitab Kejadian. Kita tahu TULIP, khususnya tentang unconditional election (pemilihan tak bersyarat), itu sudah ada di dalam kisah Kej.12 ini. Abram bukan mau mengenal Tuhan, sebab dalam diri orang berdosa tidak ada satu keinginan untuk mencari Tuhan. Paulus dengan jelas mengatakan, tidak ada satu orang pun yang mencari Tuhan. Bagaimana mungkin orang yang berdosa, yang memuja berhala seperti Abram bisa mengenal Tuhan? Tuhan sendiri yang secara aktif berinisiatif untuk berfirman kepada Abraham. Paulus mengatakan, iman datang dari pendengaran akan firman tentang Kristus. Kata election artinya Allah sendiri yang menetapkan dan memilih, yakni satu inisiatif dari Tuhan sendiri. Sedangkan kata unconditional artinya bukan karena kita adalah orang-orang yang hebat dan patut untuk dipakai oleh Tuhan, tetapi hanya karena diriNya sendiri Dia mau memilih. Ketika memilih Abram, sebenarnya tidak ada satu kualifikasi pun dalam dirinya untuk bisa dipilih menjadi satu pemimpin bangsa yang besar. Isterinya adalah seorang yang mandul, bagaimana mungkin Allah berjanji, bahwa daripadanya akan lahir bukan saja seorang anak saja, tetapi dari keturunannya akan menjadi satu bangsa yang besar? Berarti ada bangsa dan tanah yang Abram tidak pernah miliki. Konsep unconditional election ini menjadi satu konsep yang begitu mengagungkan Tuhan. Saya seringkali mengatakan, doktrin Reformed itu sangat simpel, karena Allah berada di tempat Allah (di atas) dan manusia berada di tempat manusia (di bawah). Begitu berbeda antara creator dengan creation. Perhatikan, bukan saja istri Abram (Sarai) yang mandul, isteri Ishak (Ribka) dan isteri Yakub (Rahel) pun mandul. Mengapa Tuhan dalam melakukan sesuatu memakai cara-cara yang begitu bodoh? Bukan memilih isteri yang subur, tapi justru memakai orang-orang yang mandul, yang sebenarnya tidak ada kualifikasi apa pun yang mereka bisa berikan kepada Tuhan. Jawabannya hanya satu, melalui kelemahan manusia, biarlah nama Tuhan semakin dipermuliakan. Inilah cara kerja Tuhan, memakai kebodohan-kebodohan dunia agar manusia sadar, bahwa dari dirinya sendiri tidak ada apa pun yang bisa dia berikan kepada Tuhan, hanya Tuhan saja yang bekerja. Dari fase ini, Abram mendengarkan firman Tuhan dan dari firman tersebut terciptalah iman dalam diri Abram. Sebelumnya dia pemuja berhala-berhala, sekarang dia mengerti siapa Tuhan yang sebenarnya yang harus dia ikuti di sepanjang hidupnya.

2) Fase ketaatan. Mengapa Abram mau taat mendengarkan firman Tuhan? Ibr.11 mengatakan, karena iman maka Abraham taat. Iman yang dimiliki Abram adalah iman untuk taat kepada Tuhan. Paling celaka kalau orang Kristen hanya mau beriman saja kepada Tuhan, tapi kalau diminta untuk taat dia berhenti. Kenapa? Sebab seringkali dalam pemikiran kita, bahwa kita adalah raja atas hidup kita sendiri. Sebenarnya apa kualifikasi Abram untuk taat? Tidak ada. Dia disuruh untuk pergi ke satu tempat oleh Tuhan, tapi tidak tahu tempat itu dimana. Dia bahkan dijanjikan, daripadanya akan menjadi satu keturunan yang besar. Seringkali kita merasionalisasikan panggilan dari Tuhan dan berkata: “Tuhan, bagaimana mungkin itu terjadi? Sebab aku memiliki keterbatasan ini dan itu”. Kalau dipanggil menjadi hamba Tuhan berkata: “Saya tidak bisa berbicara/fasih berkhotbah, tidak mungkin panggilan itu adalah panggilan yang benar”. Kemana (where)? Abram tidak tahu dia akan pergi kemana, tapi Tuhan mengatakan agar dia pergi terlebih dahulu dan kemudian Tuhan akan menunjukkan hal itu kepadanya. Bagaimana (how)? Abram tidak mungkin bisa punya keturunan, karena isterinya mandul. Tapi Tuhan katakan, dia tidak usah bicara, dia taat kepada perintah Tuhan lebih dulu. Kapan (when) Abram bisa melihat ada keturunan itu? Itu pun tidak bisa dia jawab, karena dia baru bisa melihatnya 25 tahun kemudian. Janji Tuhan kepadanya, suatu hari nanti seluruh bangsa di permukaan bumi ini akan diberkati oleh keturunannya tidak dia lihat sampai 2.000 tahun ke depan. Pertanyaan where, how, why, when ini tidak bisa dijawab semuanya oleh Abram, tapi dia percaya kepada Tuhan, maka dia bisa taat. Bagaimana dengan orang-orang Kristen atau hamba-hamba Tuhan sekarang ini? Kita seringkali merasionalisasikan panggilan Tuhan. Kalau Tuhan sudah menyediakan kebutuhanku, barulah aku mau menjalankan panggilan Tuhan. Kalau Tuhan menjawab pertanyaan-pertanyaanku, barulah aku menjalankan panggilan tersebut, tetapi jika tidak, maka aku akan berdiam diri saja. Ini adalah orang Kristen yang kerdil, sebab di balik semua pertanyaan itu kita tidak pernah mengenal siapa Tuhanmu yang sebenarnya. Abraham tidak bisa menjawab semua pertanyaan tersebut, tetapi dia beriman kepada Tuhan yang benar. Seperti kitab Amsal mengatakan, percaya di dalam hati. Seringkali kita mau mengerti di dalam ratio/knowlegde, baru kita mau percaya. Dalam mengajar anak saya, banyak orang tidak setuju dengan cara saya mengajar. Apalagi dalam zaman moderen seperti ini, dimana anak kecil pun dituntut untuk bersikap kritis. Harus mengerti terlebih dahulu sebelum dia melakukan sesuatu. Dan memang anak-anak pintar melakukan hal seperti ini. Ketika saya menyuruh anak saya melakukan sesuatu, dia sering bertanya, kenapa pa? Saya sering katakan, just do itu because your father told you so. Ada seorang teman saya yang juga seorang guru mengatakan tidak setuju dengan cara saya mendidik anak, karena itu tidak melatih anak saya berpikir kritis. Saya katakan, kritis atau tidak kritis bukan sesuatu hal yang penting. Pertanyaannya adalah dia kritis kepada siapa? Itu yang lebih penting. Kita sering gagal dalam hidup, karena kita suka kritis terhadap Tuhan, tapi tidak kritis atau peka terhadap setan. Itu yang membuat pelayanan kita gagal satu demi satu. Saya bisa menjelaskan hal ini kepada anak saya, tetapi saya mau dia percaya lebih dahulu kepada orang pribadi yang memberikan perintah tersebut. Saya katakan kepadanya, sebagai seorang ayah tidak mungkin saya merencanakan hal-hal yang buruk kepadanya. Percaya kepada papa! Percaya kepada Pribadi (Allah) dan Abram mengerti hal ini. Abram percaya kepada Tuhan yang memanggil dia, maka hal yang lain menjadi sekunder.
Fase iman melahirkan ketaatan. Kalau Saudara menjadi orang Kristen yang hanya beriman saja, maka ketika dalam hidupmu melakukan perintah Tuhan akan gagal satu demi satu. Ada orang Kristen yang belum bertumbuh. Beberapa tahun yang lalu ada orang yang bertanya kepada saya, David sudah berapakali membaca Alkitab dari depan sampai belakang? Ini pertanyaan yang susah untuk dijawab. Kalau saya jawab lima kali, lalu dia katakan sudah membacanya enam kali, saya kalah. Atau kalau saya katakan delapan kali dan dia katakan sekali pun dia belum pernah membaca sampai habis, maka dia bisa minder. Saya kemudian menjawabnya, memang penting membaca Alkitab secara keseluruhan, tetapi membacanya sampai beberapakali jangan menjadi satu hal yang dipentingkan. Yang saya mau tanya adalah, berapa banyak engkau sudah melakukan perintah-perintah dalam Alkitab? Itu jauh lebih penting. Saya takut melihat orang semakin tinggi belajar teologia, dia harus semakin taat kepada Tuhan. Itu semakin susah. Apa yang terjadi? Karena itu menjadi satu knowledge (pengetahuan) saja, tapi kita tidak pernah tahu siapa yang kita percaya. Abram tidak pernah memiliki Alkitab seperti kita yang bisa diperoleh dimana-mana, termasuk pada zaman moderen seperti sekarang ini bisa dibaca di handphone, Ipad, Ipod atau Iphone. Istilahnya, Alkitab itu ada di dalam genggaman tangan kita. Kemana pun kita pergi kita bisa membacanya. Ironisnya, karena terlalu simpel kita jadi jarang baca Alkitab. Itu satu hal yang ironis dari teknologi moderen, sehingga seakan-akan Alkitab itu bisa kita bawa kemana pun kita pergi. Kita sudah memiliki Alkitab yang komplit. Abraham tidak memiliki seperti itu. Dia hanya mendapatkan firman Tuhan satu kata demi satu kata, tetapi keunikannya adalah dia mendapatkan satu firman dari Tuhan, lalu dia pegang firman itu dan dia melakukannya walaupun dia sering berjuang untuk melakukannya. Masalahnya bagi kita adalah kita sudah mendapatkan ribuan firman Tuhan dari Alkitab yang bisa kita pegang dan genggam, tapi pertanyaannya adalah sudah berapa banyak firman Tuhan yang kita sudah lakukan?

3) Fase berkat. Ketika Abram berjalan, dia tidak tahu kemana harus pergi. Sampai pada satu hari dia masuk ke tanah Kanaan, barulah Allah berkata kepadanya: “Inilah tanah yang akan Kuberikan kepada keturunanmu” (ayat 7). Di situ Abram tahu, bahwa itulah tanah perjanjian yang Allah berikan. Bayangkan kalau Abram tidak pernah taat dan dia tunda terus untuk melakukan pekerjaan atau perintah Tuhan! Jika demikian, Abram tidak akan pernah masuk ke dalam fase berkat ini. Namun dia taat pada perintah Tuhan walaupun dia tidak ada alasan untuk taat. Saya bersyukur ketika mengabarkan Injil bukan karena saya bisa memberikan sesuatu kepada orang tersebut, tetapi karena hidup saya dikelilingi oleh orang-orang yang begitu mencintai untuk mengabari Injil. Itu menjadi kekuatan bagi saya. Di Amerika kita tidak punya kesempatan seperti ini. Saudara-saudara seharusnya semakin menghargai kesempatan-kesempatan untuk mengikuti berbagai KKR Regional yang diadakan oleh gereja ini. Indonesia adalah mayoritas muslim. Justru di Indonesia kesempatan untuk mengabarkan Injil begitu luas. Saya baca dalam warta gereja, ada pelayanan ke berbagai rumah sakit. Di Amerika tidak mungkin bisa memberitakan Injil ke rumah sakit. Saya suka melihat orang-orang yang suka mengabarkan Injil. Saya berdoa agar gereja ini menjadi gereja yang diberkati Tuhan. Mungkin bukan karena semua di antara kalian adalah kader-kader yang suka mengabarkan Injil atau orang-orang yang dewasa secara kristiani, tetapi saya percaya gereja ini diberkati jika di dalamnya ada orang-orang yang walaupun hanya segelintir saja suka memberitakan Injil atau suka taat kepada Tuhan. Sebelum Sodom dihancurkan oleh Tuhan, Abram bertanya kepada Tuhan: “Bagaimana kalau ada 50 orang yang percaya, apakah Engkau akan menghancurkan Sodom?”, Tuhan menjawab, tidak. Lalu Abram bertanya lagi kepada Tuhan, dimulai dari jumlah 45 orang percaya, 40 orang percaya, 30 orang percaya, 20 orang percaya, dan akhirnya jika ada 10 orang percaya di kota Sodom, apakah Tuhan akan menghancurkannya? Tuhan katakan, tidak. Sodom akan diberkati Tuhan saat itu dan lolos dari hukuman Tuhan hanya karena segelintir orang yang percaya kepada Tuhan. Mungkin gereja ini diberkati oleh Tuhan, karena ada segelintir orang yang percaya dan taat kepada Tuhan, tapi saya berharap lebih daripada itu.

4) Fase ujian. Seringkali orang-orang Kristen maunya dari fase iman langsung masuk ke dalam fase berkat, dan tidak mau masuk ke dalam fase ujian. Saya katakan, pada saat ini gereja-gereja berlomba-lomba menciptakan orang-orang Kristen yang semakin lama semakin kerdil. Mereka hanya mau menciptakan pengikut-pengikut Kristus yang bisa mengikuti Kristus dari jauh dan kenikmatan hidup mereka, tapi tidak mau menciptakan murid-murid Kristus yang tahu harga untuk menjadi seorang murid. Itu kondisi gereja pada saat ini! Gereja Reformed mempunyai satu keunikan, karena taat pada Tuhan dan tahu dari semula harga untuk menjadi pengikut Kristus dan menjadi murid Kristus. Selama kita taat pada visi dan misi semula, maka gereja ini akan diberkati Tuhan. Kita baca ayat 10, kelaparan terjadi di tanah perjanjian. Kalau saya menjadi Abram, saya akan bertanya pada Tuhan, kenapa saya harus tunggu sekian lama setelah memenangkan satu perjalanan rohani dan peperangan rohani hingga sampai ke tanah pernjanjian, baru Tuhan memberikan satu ujian kelaparan yang begitu besar? Kita sering bertanya, kenapa Tuhan berikan ujian padaku seperti ini pada saat ini? Itu tidak akan menyelesaikan permalasahan. Ketika kita sudah memenangkan peperangan rohani dan merasakan berkat Tuhan, pada saat itulah Tuhan berikan ujian pada kita. Ini satu hal yang penting, sebab iman kita harus diuji. Menurut Socrates, hidup yang tidak diuji adalah satu hidup yang tidak layak untuk dihidupi. Dan saya tambahkan, iman yang tidak pernah diuji adalah iman yang tidak ada harga untuk dimiliki. Tuhan mau menguji Abram dan saya pun percaya, Tuhan juga ingin menguji kita pada saat ini. Anak-anak yang beriman kepada Tuhan pasti akan diuji oleh Tuhan.
Pertanyaannya adalah relakah/siapkah/maukah kita diuji oleh Tuhan? Maz.26:1-2 menyatakan satu doa yang begitu indah. Kapan dalam doa kita minta diuji oleh Tuhan? Perhatikanlah doa-doa kita, maka kalimat pertama selalu minta berkat. Tapi kalau Saudara perhatikan doa Bapa kami dan Saudara benar-benar mengerti doa Bapa kami, maka tidak mungkin kalimat pertama dan yang terakhir dalam doamu adalah mengenai dirimu. Doa seperti ini adalah doa yang jarang sekali kita doakan. Sekali kita terpaku dengan kesulitan hidup kita, sehingga yang kita doakan adalah selalu mengenai diri kita sendiri. Dalam hal ini, Abram diuji oleh Tuhan.

Mengapa kita diuji oleh Tuhan? Ada beberapa alasan:
1) Agar engkau bisa mengenal siapa dirimu. Abram baru memenangkan satu perjalanan rohani yang sangat jauh dan satu peperangan rohani yang begitu sulit dan mendapatkan berkat, sangat gampang bagi Abram untuk berkata: “Ya, saya sudah berhasil melakukan hal ini, karena kekuatanku!”. Seringkali hal ini terjadi pada diri kita. Para orangtua yang mendidik anak-anaknya dengan kesulitan mulai dari kecil sampai besar dan anak-anaknya berhasil, langsung mengatakan, itu karena saya sudah mendidiknya dari kecil dengan airmataku. Itu adalah karena jasaku. Para pemuda yang dari kecil sudah belajar susah payah dan mendapatkan gelar yang baik, seringkali lupa dan dengan gampang mengatakan, karena saya sudah belajar dengan keras, maka saya mendapatkan hal ini. Ketika Abram mengalami ujian, dia tidak melihat jalan keluar dan seakanakan tidak berpengharapan. Di situlah dia merasa bukan siapa-siapa. Orang Reformed harusnya yang paling berbahagia, karena mengetahui dirinya bukan siapa-siapa di hadapan Tuhan. Kita harus bersyukur untuk hal itu, tapi seringkali ego kita dihancurkan oleh Tuhan ketika kita menghadapi ujian. Saya paling kuatir dan ini paling sering terjadi. Semakin kita diberkati oleh Tuhan, hidup kita semakin dangkal; semakin kita menikmati berkat dari Tuhan, semakin keluarga kita tidak mengenal Tuhan. Ketika Tuhan menguji kita seakan-akan tidak ada harapan dan menghancurkan ego kita, maka itu untuk mengetahui kita harus bersandar kepada Tuhan.

2) Menguji kemurnian iman kita. Mengapa sampai saat ini engkau mau mengikuti Kristus dan melayani? Kita harus terus berpikir mengenai hal ini, mengapa? Ketika saya melakukan penginjilan pernah bertemu dengan seorang bapak yang baru saja dipecat dari pekerjaannya. Dia katakan, dia tidak ada uang dan keluarganya mungkin tidak bisa makan hari ini. Kalau saya katakan, dia harus percaya pada hidup yang kekal, pasti dia akan jawab: “Jangankan hidup kekal, hidup yang sekarang saja saya dan keluargaku belum tentu bisa melewatinya!”. Saya kaget dan teologi saya tidak bisa menjawabnya. Saya pernah membawakan seminar di Palangkaraya tentang kekristenan yang sejati, apa itu membayar harga sebagai seorang murid Kristus dan bagaimana mengejar kekudusan. Setelah selesai seminar ada seorang ibu datang kepada saya dan menceritakan, bahwa dia sebelumnya seorang muslim dan sekarang menjadi Kristen. Setelah menjadi orang Kristen, dia dikucilkan dan diusir oleh keluarganya. Bahkan suaminya meninggalkan dia dan anakanaknya dibawa oleh suaminya. Dia tidak bisa mendekati anak-anaknya lagi, hanya bisa melihat dari jauh saja. Banyak orang seperti ini. Saya berkata kepada Tuhan: “Ya Tuhan, saya baru tahu harga yang harus saya bayar untuk menjadi muridMu masih terlalu rendah”. Banyak orang mungkin di luar gereja kita atau ada sebagian di dalam gereja kita yang sudah mengerti harga untuk menjadi seorang murid Kristus lebih daripada kita. Mereka bukan mengerti saja, tetapi mereka sudah melakukannya. Jika Tuhan sudah mengambil semua yang engkau miliki, apakah engkau masih beriman kepadaNya? Ini premis dari setan ketika menguji Ayub. Premis dari setan adalah berkat Tuhan menyebabkan kita beribadah kepada Tuhan. Dan itu yang seringkali terjadi dalam hidup kita. Apa yang terjadi jika Tuhan memberhentikan semua berkat itu, memutarbalikkan hidup kita, dan memberikan satu ujian, membuat hidup kita begitu sengsara? Masihkah kita mau mengikuti Tuhan? Kita harus benar-benar diuji oleh Tuhan supaya akhirnya mendewasakan iman kita dan mengenal Tuhan itu sendiri. Ayat dari 1 Kor.10:13 adalah satu ayat yang sudah begitu terkenal. Sebenarnya terjemahan dari kata pencobaan di sini adalah ujian.

Ketika engkau sedang diuji, maka ada 3 hal, yakni:
a) Itu adalah ujian yang biasa. Artinya, orang lain pun pernah menerima ujian tersebut, tapi kecenderungan kita adalah selalu melebih-lebihkannya, sehingga ujian yang kita terima itu adalah ujian yang luar biasa yang orang lain tidak pernah mengalaminya.
b) Ujian itu tidak melebihi dari kekuatanmu. Artinya, ujian itu tidak mungkin bisa mematikan kita.
c) Pasti ada jalan keluar yang Tuhan berikan. Masalahnya adalah ketika kita jatuh, bukan karena Tuhan memberikan ujian yang melebihi kekuatan kita dan tidak ada jalan keluarnya, tetapi kita tidak mau taat, tidak mau berjuang di dalam ujian tersebut, dan kita coba mengisi jalan keluarnya. Kita bahkan mau mencicipi dosa waktu kita diuji. Inilah yang dilakukan Abram. Ketika dia mengalami satu ujian, maka dia bukan menunggu ujian itu lewat dari hidupnya, tetapi dia pergi mencari jalan keluar, yaitu pergi ke Mesir.
Darimana kita tahu Abram pergi ke Mesir untuk masuk ke dalam perangkap dosa?
Pertama, ketika Alkitab mengatakan dia turun ke Mesir, itu menceritakan kerohaniannya sedang turun. Tapi kalau keluar dari tanah Mesir dan masuk ke tanah perjanjian, itu adalah menceritakan kerohaniannya sedang naik. Ke dua, satu saat nanti Abram akan kembali ke tanah Kanaan, bukan? Artinya, kalau dia tetap tinggal di Kanaan, Tuhan bisa memelihara dia. Saya rasa Abram tidak melihat satu hal ini, yakni satu kalimat yang saya pelajari bertahun-tahun yang lalu: “Kehendak Tuhan tidak mungkin memimpin kita ke satu tempat dimana anugerah Tuhan tidak bisa menopang kita”. Problemnya adalah kita tidak mengerti siapa yang kita percayai. Di sini Abram tidak melihat Tuhan yang sudah memanggil dia keluar dari tanah Ur menuju ke tanah Kanaan, dimana Tuhan juga mau/mampu/bisa menopang dia melewati ujian tersebut. Apa akibat yang dia lakukan saat di tanah Mesir? Kalau kita sedang menghadapi ujian, darimana kita tahu kalau jalan yang sedang kita ambil adalah jalan yang salah? Apa perbedaan sandaran hidup Abram di dalam Kej.12:1-9 dengan Kej.12:10-20? Pertama, dalam ayat 1-9 Abram terus menerima janji Tuhan yang berkata: “Aku akan.....” (ayat 2, 3, 7). Tetapi dalam ayat 10-20 tidak ada lagi perkataan itu, sebab Abram tidak lagi berfokus kepada Tuhan, tetapi kepada keadaan sekitarnya (ayat 12-13). Ini terjadi kalau kita sudah lari dari jalur Tuhan. Maka yang kita lihat adalah kesulitan-kesulitan di dalam dunia ini.
Ke dua, dalam ayat 1-9 Abram tidak dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan  why/where/how/when kepada Tuhan, tetapi dia tahu dan dia bersandar sepenuhnya kepada Tuhan. Sedangkan di dalam ayat 10-20 Abram bersandar pada cara-cara manusia (dirinya sendiri) dengan cara menyuruh istrinya berbohong kepada Firaun, bahwa dia adalah adiknya. Memang Sarai adalah saudaranya, dari satu ayah dan ibu yang berbeda. Dan inilah yang terjadi dalam hidup kita.

Ke tiga, perubahan hidup dalam beribadah. Dalam ayat 1-9, kemana pun Abram pergi, di situ dia memanggil Tuhan dan mendirikan mezbah, tetapi dalam ayat 10-20 tidak ada satu kata Tuhan pun disebutkan di sana. Abram tidak lagi memanggil nama Tuhan dan mendirikan mezbah Tuhan. Saudara perhatikan, jika hidup ibadahmu semakin lama semakin turun, engkau sebenarnya tahu ada sesuatu yang tidak beres di dalam hidupmu. Bertobatlah!

Ke empat, perubahan sikap. Dalam ayat 1-9 Abram dipanggil untuk menjadi berkat bagi banyak orang, tetapi dalam ayat 10-20 Abram hanya mau hidup untuk dirinya sendiri. Ketika Abram menyuruh istrinya berbohong, ini bukan bicara mengenai keselamatan dirinya saja, tetapi agar dia mendapatkan berkat-berkat dari Firaun (ayat 13 menyebut agar Abram diperlakukan dengan baik).

Ke lima, perubahan dalam tujuan hidup. Abram dipanggil bukan untuk menjadi berkat bagi banyak orang di tanah Mesir, tetapi Firaun dan warganya mendapat kutukan dari Tuhan. Saudara, mari kita evaluasi hidup kita! Apakah orang lain di sekitar Saudara semakin mendapat berkat karena Saudara berada di tengah-tengah mereka? Ataukah semakin dimurkai oleh Tuhan karena keberadaan Saudara di sana? Apa yang terjadi jika Saudara salah melangkah dan gagal di dalam ujian? Hanya satu jawabnya, yakni ganti haluan (Kej.13:1-4), dimana Abram kembali ke tanah perjanjian. Alkitab mengatakan, jika di dalam hatimu engkau katakan engkau orang berdosa, maka Allahmu itu setia dan adil. Dia bukan hanya bisa mengampuni dosamu, tetapi Dia juga mau dan akan mengampuni dosamu. Pertobatan tanpa satu perubahan adalah satu penipuan. Abram bertobat dan dia kembali memanggil nama Tuhan (Kej.13:4).

Bagaimana dengan hidup kita? Ujian pasti datang dalam hidupmu. Kalau engkau adalah orang Kristen yang hanya beriman dan mengharapkan berkat, engkau adalah orang Kristen murahan yang tidak tahu apa itu arti dan nilai ujian. Tapi jika engkau mau bertumbuh dalam Kristus, pastilah hidupmu diuji. Tuhan katakan, jika ada orang yang tidak mau memikul salib dan menyangkal dirinya, orang itu tidak perlu dan tidak bisa mengikut Dia.
__________________________
Artikel ini diambil dari Ringkasan Kotbah GRII Karawaci - 31.7.2011
(Ringkasan khotbah ini belum dikoreksi oleh pengkhotbah)

Ev. David Tong, Ph.D.