Selamat datang ke MRII Bern.

Kami senang atas kunjungan anda ke website kami. Kami berharap Saudara mendapatkan informasi yang diperlukan dan semoga artikel-artikel yang dimuat dapat menjadi berkat juga. Terlebih lagi, kami berharap bisa bersekutu bersama dengan Saudara di Kebaktian Minggu.

Apa/Siapa MRII Bern


Menghadapi Ujian, Ev. David Tong, Ph.D.

Kej.12:1-13:1-4; 1 Kor.10:13 

Saya percaya, kita semua mengetahui tentang Abraham, Bapa orang beriman itu. Kita semua
mengetahui tentang kisah Abraham dan momen-momen yang paling penting di dalam hidupnya. Apa yang ada di dalam Alkitab bukan dongeng atau cerita yang kita ceritakan kepada anak-anak kita saja, tetapi anak-anak Tuhan yang Tuhan pakai dalam Alkitab adalah satu pelajaran bagi kita untuk menghidupi hidup ini.
Kej.12 adalah panggilan khusus bagi Abram dan firman Tuhan datang kepadanya.
Kej.12 ini menggambarkan dalam kehidupan seorang Kristen ada 4 fase, yakni: 

1) Fase iman. Abram adalah dari orang yang tidak percaya, akhirnya menjadi orang yang percaya, bahkan dia taat untuk mengikuti firman/perintah Tuhan. Abram hidup di Babilonia, kota Ur. Dia adalah seorang pemuja berhala. Tapi orang yang tidak mengenal Allah ini bisa mengenal Allah karena apa? Kej.12 sangat jelas sekali mengatakan kepada kita, karena firman Tuhan datang kepadanya. Doktrin Reformed bukan dimulai oleh Paulus (mulai dari kitab Roma dst). Kalau kita pelajari kitab Kejadian, konsep teologia orang Reformed sudah ada di dalam kitab Kejadian. Kita tahu TULIP, khususnya tentang unconditional election (pemilihan tak bersyarat), itu sudah ada di dalam kisah Kej.12 ini. Abram bukan mau mengenal Tuhan, sebab dalam diri orang berdosa tidak ada satu keinginan untuk mencari Tuhan. Paulus dengan jelas mengatakan, tidak ada satu orang pun yang mencari Tuhan. Bagaimana mungkin orang yang berdosa, yang memuja berhala seperti Abram bisa mengenal Tuhan? Tuhan sendiri yang secara aktif berinisiatif untuk berfirman kepada Abraham. Paulus mengatakan, iman datang dari pendengaran akan firman tentang Kristus. Kata election artinya Allah sendiri yang menetapkan dan memilih, yakni satu inisiatif dari Tuhan sendiri. Sedangkan kata unconditional artinya bukan karena kita adalah orang-orang yang hebat dan patut untuk dipakai oleh Tuhan, tetapi hanya karena diriNya sendiri Dia mau memilih. Ketika memilih Abram, sebenarnya tidak ada satu kualifikasi pun dalam dirinya untuk bisa dipilih menjadi satu pemimpin bangsa yang besar. Isterinya adalah seorang yang mandul, bagaimana mungkin Allah berjanji, bahwa daripadanya akan lahir bukan saja seorang anak saja, tetapi dari keturunannya akan menjadi satu bangsa yang besar? Berarti ada bangsa dan tanah yang Abram tidak pernah miliki. Konsep unconditional election ini menjadi satu konsep yang begitu mengagungkan Tuhan. Saya seringkali mengatakan, doktrin Reformed itu sangat simpel, karena Allah berada di tempat Allah (di atas) dan manusia berada di tempat manusia (di bawah). Begitu berbeda antara creator dengan creation. Perhatikan, bukan saja istri Abram (Sarai) yang mandul, isteri Ishak (Ribka) dan isteri Yakub (Rahel) pun mandul. Mengapa Tuhan dalam melakukan sesuatu memakai cara-cara yang begitu bodoh? Bukan memilih isteri yang subur, tapi justru memakai orang-orang yang mandul, yang sebenarnya tidak ada kualifikasi apa pun yang mereka bisa berikan kepada Tuhan. Jawabannya hanya satu, melalui kelemahan manusia, biarlah nama Tuhan semakin dipermuliakan. Inilah cara kerja Tuhan, memakai kebodohan-kebodohan dunia agar manusia sadar, bahwa dari dirinya sendiri tidak ada apa pun yang bisa dia berikan kepada Tuhan, hanya Tuhan saja yang bekerja. Dari fase ini, Abram mendengarkan firman Tuhan dan dari firman tersebut terciptalah iman dalam diri Abram. Sebelumnya dia pemuja berhala-berhala, sekarang dia mengerti siapa Tuhan yang sebenarnya yang harus dia ikuti di sepanjang hidupnya.

2) Fase ketaatan. Mengapa Abram mau taat mendengarkan firman Tuhan? Ibr.11 mengatakan, karena iman maka Abraham taat. Iman yang dimiliki Abram adalah iman untuk taat kepada Tuhan. Paling celaka kalau orang Kristen hanya mau beriman saja kepada Tuhan, tapi kalau diminta untuk taat dia berhenti. Kenapa? Sebab seringkali dalam pemikiran kita, bahwa kita adalah raja atas hidup kita sendiri. Sebenarnya apa kualifikasi Abram untuk taat? Tidak ada. Dia disuruh untuk pergi ke satu tempat oleh Tuhan, tapi tidak tahu tempat itu dimana. Dia bahkan dijanjikan, daripadanya akan menjadi satu keturunan yang besar. Seringkali kita merasionalisasikan panggilan dari Tuhan dan berkata: “Tuhan, bagaimana mungkin itu terjadi? Sebab aku memiliki keterbatasan ini dan itu”. Kalau dipanggil menjadi hamba Tuhan berkata: “Saya tidak bisa berbicara/fasih berkhotbah, tidak mungkin panggilan itu adalah panggilan yang benar”. Kemana (where)? Abram tidak tahu dia akan pergi kemana, tapi Tuhan mengatakan agar dia pergi terlebih dahulu dan kemudian Tuhan akan menunjukkan hal itu kepadanya. Bagaimana (how)? Abram tidak mungkin bisa punya keturunan, karena isterinya mandul. Tapi Tuhan katakan, dia tidak usah bicara, dia taat kepada perintah Tuhan lebih dulu. Kapan (when) Abram bisa melihat ada keturunan itu? Itu pun tidak bisa dia jawab, karena dia baru bisa melihatnya 25 tahun kemudian. Janji Tuhan kepadanya, suatu hari nanti seluruh bangsa di permukaan bumi ini akan diberkati oleh keturunannya tidak dia lihat sampai 2.000 tahun ke depan. Pertanyaan where, how, why, when ini tidak bisa dijawab semuanya oleh Abram, tapi dia percaya kepada Tuhan, maka dia bisa taat. Bagaimana dengan orang-orang Kristen atau hamba-hamba Tuhan sekarang ini? Kita seringkali merasionalisasikan panggilan Tuhan. Kalau Tuhan sudah menyediakan kebutuhanku, barulah aku mau menjalankan panggilan Tuhan. Kalau Tuhan menjawab pertanyaan-pertanyaanku, barulah aku menjalankan panggilan tersebut, tetapi jika tidak, maka aku akan berdiam diri saja. Ini adalah orang Kristen yang kerdil, sebab di balik semua pertanyaan itu kita tidak pernah mengenal siapa Tuhanmu yang sebenarnya. Abraham tidak bisa menjawab semua pertanyaan tersebut, tetapi dia beriman kepada Tuhan yang benar. Seperti kitab Amsal mengatakan, percaya di dalam hati. Seringkali kita mau mengerti di dalam ratio/knowlegde, baru kita mau percaya. Dalam mengajar anak saya, banyak orang tidak setuju dengan cara saya mengajar. Apalagi dalam zaman moderen seperti ini, dimana anak kecil pun dituntut untuk bersikap kritis. Harus mengerti terlebih dahulu sebelum dia melakukan sesuatu. Dan memang anak-anak pintar melakukan hal seperti ini. Ketika saya menyuruh anak saya melakukan sesuatu, dia sering bertanya, kenapa pa? Saya sering katakan, just do itu because your father told you so. Ada seorang teman saya yang juga seorang guru mengatakan tidak setuju dengan cara saya mendidik anak, karena itu tidak melatih anak saya berpikir kritis. Saya katakan, kritis atau tidak kritis bukan sesuatu hal yang penting. Pertanyaannya adalah dia kritis kepada siapa? Itu yang lebih penting. Kita sering gagal dalam hidup, karena kita suka kritis terhadap Tuhan, tapi tidak kritis atau peka terhadap setan. Itu yang membuat pelayanan kita gagal satu demi satu. Saya bisa menjelaskan hal ini kepada anak saya, tetapi saya mau dia percaya lebih dahulu kepada orang pribadi yang memberikan perintah tersebut. Saya katakan kepadanya, sebagai seorang ayah tidak mungkin saya merencanakan hal-hal yang buruk kepadanya. Percaya kepada papa! Percaya kepada Pribadi (Allah) dan Abram mengerti hal ini. Abram percaya kepada Tuhan yang memanggil dia, maka hal yang lain menjadi sekunder.
Fase iman melahirkan ketaatan. Kalau Saudara menjadi orang Kristen yang hanya beriman saja, maka ketika dalam hidupmu melakukan perintah Tuhan akan gagal satu demi satu. Ada orang Kristen yang belum bertumbuh. Beberapa tahun yang lalu ada orang yang bertanya kepada saya, David sudah berapakali membaca Alkitab dari depan sampai belakang? Ini pertanyaan yang susah untuk dijawab. Kalau saya jawab lima kali, lalu dia katakan sudah membacanya enam kali, saya kalah. Atau kalau saya katakan delapan kali dan dia katakan sekali pun dia belum pernah membaca sampai habis, maka dia bisa minder. Saya kemudian menjawabnya, memang penting membaca Alkitab secara keseluruhan, tetapi membacanya sampai beberapakali jangan menjadi satu hal yang dipentingkan. Yang saya mau tanya adalah, berapa banyak engkau sudah melakukan perintah-perintah dalam Alkitab? Itu jauh lebih penting. Saya takut melihat orang semakin tinggi belajar teologia, dia harus semakin taat kepada Tuhan. Itu semakin susah. Apa yang terjadi? Karena itu menjadi satu knowledge (pengetahuan) saja, tapi kita tidak pernah tahu siapa yang kita percaya. Abram tidak pernah memiliki Alkitab seperti kita yang bisa diperoleh dimana-mana, termasuk pada zaman moderen seperti sekarang ini bisa dibaca di handphone, Ipad, Ipod atau Iphone. Istilahnya, Alkitab itu ada di dalam genggaman tangan kita. Kemana pun kita pergi kita bisa membacanya. Ironisnya, karena terlalu simpel kita jadi jarang baca Alkitab. Itu satu hal yang ironis dari teknologi moderen, sehingga seakan-akan Alkitab itu bisa kita bawa kemana pun kita pergi. Kita sudah memiliki Alkitab yang komplit. Abraham tidak memiliki seperti itu. Dia hanya mendapatkan firman Tuhan satu kata demi satu kata, tetapi keunikannya adalah dia mendapatkan satu firman dari Tuhan, lalu dia pegang firman itu dan dia melakukannya walaupun dia sering berjuang untuk melakukannya. Masalahnya bagi kita adalah kita sudah mendapatkan ribuan firman Tuhan dari Alkitab yang bisa kita pegang dan genggam, tapi pertanyaannya adalah sudah berapa banyak firman Tuhan yang kita sudah lakukan?

3) Fase berkat. Ketika Abram berjalan, dia tidak tahu kemana harus pergi. Sampai pada satu hari dia masuk ke tanah Kanaan, barulah Allah berkata kepadanya: “Inilah tanah yang akan Kuberikan kepada keturunanmu” (ayat 7). Di situ Abram tahu, bahwa itulah tanah perjanjian yang Allah berikan. Bayangkan kalau Abram tidak pernah taat dan dia tunda terus untuk melakukan pekerjaan atau perintah Tuhan! Jika demikian, Abram tidak akan pernah masuk ke dalam fase berkat ini. Namun dia taat pada perintah Tuhan walaupun dia tidak ada alasan untuk taat. Saya bersyukur ketika mengabarkan Injil bukan karena saya bisa memberikan sesuatu kepada orang tersebut, tetapi karena hidup saya dikelilingi oleh orang-orang yang begitu mencintai untuk mengabari Injil. Itu menjadi kekuatan bagi saya. Di Amerika kita tidak punya kesempatan seperti ini. Saudara-saudara seharusnya semakin menghargai kesempatan-kesempatan untuk mengikuti berbagai KKR Regional yang diadakan oleh gereja ini. Indonesia adalah mayoritas muslim. Justru di Indonesia kesempatan untuk mengabarkan Injil begitu luas. Saya baca dalam warta gereja, ada pelayanan ke berbagai rumah sakit. Di Amerika tidak mungkin bisa memberitakan Injil ke rumah sakit. Saya suka melihat orang-orang yang suka mengabarkan Injil. Saya berdoa agar gereja ini menjadi gereja yang diberkati Tuhan. Mungkin bukan karena semua di antara kalian adalah kader-kader yang suka mengabarkan Injil atau orang-orang yang dewasa secara kristiani, tetapi saya percaya gereja ini diberkati jika di dalamnya ada orang-orang yang walaupun hanya segelintir saja suka memberitakan Injil atau suka taat kepada Tuhan. Sebelum Sodom dihancurkan oleh Tuhan, Abram bertanya kepada Tuhan: “Bagaimana kalau ada 50 orang yang percaya, apakah Engkau akan menghancurkan Sodom?”, Tuhan menjawab, tidak. Lalu Abram bertanya lagi kepada Tuhan, dimulai dari jumlah 45 orang percaya, 40 orang percaya, 30 orang percaya, 20 orang percaya, dan akhirnya jika ada 10 orang percaya di kota Sodom, apakah Tuhan akan menghancurkannya? Tuhan katakan, tidak. Sodom akan diberkati Tuhan saat itu dan lolos dari hukuman Tuhan hanya karena segelintir orang yang percaya kepada Tuhan. Mungkin gereja ini diberkati oleh Tuhan, karena ada segelintir orang yang percaya dan taat kepada Tuhan, tapi saya berharap lebih daripada itu.

4) Fase ujian. Seringkali orang-orang Kristen maunya dari fase iman langsung masuk ke dalam fase berkat, dan tidak mau masuk ke dalam fase ujian. Saya katakan, pada saat ini gereja-gereja berlomba-lomba menciptakan orang-orang Kristen yang semakin lama semakin kerdil. Mereka hanya mau menciptakan pengikut-pengikut Kristus yang bisa mengikuti Kristus dari jauh dan kenikmatan hidup mereka, tapi tidak mau menciptakan murid-murid Kristus yang tahu harga untuk menjadi seorang murid. Itu kondisi gereja pada saat ini! Gereja Reformed mempunyai satu keunikan, karena taat pada Tuhan dan tahu dari semula harga untuk menjadi pengikut Kristus dan menjadi murid Kristus. Selama kita taat pada visi dan misi semula, maka gereja ini akan diberkati Tuhan. Kita baca ayat 10, kelaparan terjadi di tanah perjanjian. Kalau saya menjadi Abram, saya akan bertanya pada Tuhan, kenapa saya harus tunggu sekian lama setelah memenangkan satu perjalanan rohani dan peperangan rohani hingga sampai ke tanah pernjanjian, baru Tuhan memberikan satu ujian kelaparan yang begitu besar? Kita sering bertanya, kenapa Tuhan berikan ujian padaku seperti ini pada saat ini? Itu tidak akan menyelesaikan permalasahan. Ketika kita sudah memenangkan peperangan rohani dan merasakan berkat Tuhan, pada saat itulah Tuhan berikan ujian pada kita. Ini satu hal yang penting, sebab iman kita harus diuji. Menurut Socrates, hidup yang tidak diuji adalah satu hidup yang tidak layak untuk dihidupi. Dan saya tambahkan, iman yang tidak pernah diuji adalah iman yang tidak ada harga untuk dimiliki. Tuhan mau menguji Abram dan saya pun percaya, Tuhan juga ingin menguji kita pada saat ini. Anak-anak yang beriman kepada Tuhan pasti akan diuji oleh Tuhan.
Pertanyaannya adalah relakah/siapkah/maukah kita diuji oleh Tuhan? Maz.26:1-2 menyatakan satu doa yang begitu indah. Kapan dalam doa kita minta diuji oleh Tuhan? Perhatikanlah doa-doa kita, maka kalimat pertama selalu minta berkat. Tapi kalau Saudara perhatikan doa Bapa kami dan Saudara benar-benar mengerti doa Bapa kami, maka tidak mungkin kalimat pertama dan yang terakhir dalam doamu adalah mengenai dirimu. Doa seperti ini adalah doa yang jarang sekali kita doakan. Sekali kita terpaku dengan kesulitan hidup kita, sehingga yang kita doakan adalah selalu mengenai diri kita sendiri. Dalam hal ini, Abram diuji oleh Tuhan.

Mengapa kita diuji oleh Tuhan? Ada beberapa alasan:
1) Agar engkau bisa mengenal siapa dirimu. Abram baru memenangkan satu perjalanan rohani yang sangat jauh dan satu peperangan rohani yang begitu sulit dan mendapatkan berkat, sangat gampang bagi Abram untuk berkata: “Ya, saya sudah berhasil melakukan hal ini, karena kekuatanku!”. Seringkali hal ini terjadi pada diri kita. Para orangtua yang mendidik anak-anaknya dengan kesulitan mulai dari kecil sampai besar dan anak-anaknya berhasil, langsung mengatakan, itu karena saya sudah mendidiknya dari kecil dengan airmataku. Itu adalah karena jasaku. Para pemuda yang dari kecil sudah belajar susah payah dan mendapatkan gelar yang baik, seringkali lupa dan dengan gampang mengatakan, karena saya sudah belajar dengan keras, maka saya mendapatkan hal ini. Ketika Abram mengalami ujian, dia tidak melihat jalan keluar dan seakanakan tidak berpengharapan. Di situlah dia merasa bukan siapa-siapa. Orang Reformed harusnya yang paling berbahagia, karena mengetahui dirinya bukan siapa-siapa di hadapan Tuhan. Kita harus bersyukur untuk hal itu, tapi seringkali ego kita dihancurkan oleh Tuhan ketika kita menghadapi ujian. Saya paling kuatir dan ini paling sering terjadi. Semakin kita diberkati oleh Tuhan, hidup kita semakin dangkal; semakin kita menikmati berkat dari Tuhan, semakin keluarga kita tidak mengenal Tuhan. Ketika Tuhan menguji kita seakan-akan tidak ada harapan dan menghancurkan ego kita, maka itu untuk mengetahui kita harus bersandar kepada Tuhan.

2) Menguji kemurnian iman kita. Mengapa sampai saat ini engkau mau mengikuti Kristus dan melayani? Kita harus terus berpikir mengenai hal ini, mengapa? Ketika saya melakukan penginjilan pernah bertemu dengan seorang bapak yang baru saja dipecat dari pekerjaannya. Dia katakan, dia tidak ada uang dan keluarganya mungkin tidak bisa makan hari ini. Kalau saya katakan, dia harus percaya pada hidup yang kekal, pasti dia akan jawab: “Jangankan hidup kekal, hidup yang sekarang saja saya dan keluargaku belum tentu bisa melewatinya!”. Saya kaget dan teologi saya tidak bisa menjawabnya. Saya pernah membawakan seminar di Palangkaraya tentang kekristenan yang sejati, apa itu membayar harga sebagai seorang murid Kristus dan bagaimana mengejar kekudusan. Setelah selesai seminar ada seorang ibu datang kepada saya dan menceritakan, bahwa dia sebelumnya seorang muslim dan sekarang menjadi Kristen. Setelah menjadi orang Kristen, dia dikucilkan dan diusir oleh keluarganya. Bahkan suaminya meninggalkan dia dan anakanaknya dibawa oleh suaminya. Dia tidak bisa mendekati anak-anaknya lagi, hanya bisa melihat dari jauh saja. Banyak orang seperti ini. Saya berkata kepada Tuhan: “Ya Tuhan, saya baru tahu harga yang harus saya bayar untuk menjadi muridMu masih terlalu rendah”. Banyak orang mungkin di luar gereja kita atau ada sebagian di dalam gereja kita yang sudah mengerti harga untuk menjadi seorang murid Kristus lebih daripada kita. Mereka bukan mengerti saja, tetapi mereka sudah melakukannya. Jika Tuhan sudah mengambil semua yang engkau miliki, apakah engkau masih beriman kepadaNya? Ini premis dari setan ketika menguji Ayub. Premis dari setan adalah berkat Tuhan menyebabkan kita beribadah kepada Tuhan. Dan itu yang seringkali terjadi dalam hidup kita. Apa yang terjadi jika Tuhan memberhentikan semua berkat itu, memutarbalikkan hidup kita, dan memberikan satu ujian, membuat hidup kita begitu sengsara? Masihkah kita mau mengikuti Tuhan? Kita harus benar-benar diuji oleh Tuhan supaya akhirnya mendewasakan iman kita dan mengenal Tuhan itu sendiri. Ayat dari 1 Kor.10:13 adalah satu ayat yang sudah begitu terkenal. Sebenarnya terjemahan dari kata pencobaan di sini adalah ujian.

Ketika engkau sedang diuji, maka ada 3 hal, yakni:
a) Itu adalah ujian yang biasa. Artinya, orang lain pun pernah menerima ujian tersebut, tapi kecenderungan kita adalah selalu melebih-lebihkannya, sehingga ujian yang kita terima itu adalah ujian yang luar biasa yang orang lain tidak pernah mengalaminya.
b) Ujian itu tidak melebihi dari kekuatanmu. Artinya, ujian itu tidak mungkin bisa mematikan kita.
c) Pasti ada jalan keluar yang Tuhan berikan. Masalahnya adalah ketika kita jatuh, bukan karena Tuhan memberikan ujian yang melebihi kekuatan kita dan tidak ada jalan keluarnya, tetapi kita tidak mau taat, tidak mau berjuang di dalam ujian tersebut, dan kita coba mengisi jalan keluarnya. Kita bahkan mau mencicipi dosa waktu kita diuji. Inilah yang dilakukan Abram. Ketika dia mengalami satu ujian, maka dia bukan menunggu ujian itu lewat dari hidupnya, tetapi dia pergi mencari jalan keluar, yaitu pergi ke Mesir.
Darimana kita tahu Abram pergi ke Mesir untuk masuk ke dalam perangkap dosa?
Pertama, ketika Alkitab mengatakan dia turun ke Mesir, itu menceritakan kerohaniannya sedang turun. Tapi kalau keluar dari tanah Mesir dan masuk ke tanah perjanjian, itu adalah menceritakan kerohaniannya sedang naik. Ke dua, satu saat nanti Abram akan kembali ke tanah Kanaan, bukan? Artinya, kalau dia tetap tinggal di Kanaan, Tuhan bisa memelihara dia. Saya rasa Abram tidak melihat satu hal ini, yakni satu kalimat yang saya pelajari bertahun-tahun yang lalu: “Kehendak Tuhan tidak mungkin memimpin kita ke satu tempat dimana anugerah Tuhan tidak bisa menopang kita”. Problemnya adalah kita tidak mengerti siapa yang kita percayai. Di sini Abram tidak melihat Tuhan yang sudah memanggil dia keluar dari tanah Ur menuju ke tanah Kanaan, dimana Tuhan juga mau/mampu/bisa menopang dia melewati ujian tersebut. Apa akibat yang dia lakukan saat di tanah Mesir? Kalau kita sedang menghadapi ujian, darimana kita tahu kalau jalan yang sedang kita ambil adalah jalan yang salah? Apa perbedaan sandaran hidup Abram di dalam Kej.12:1-9 dengan Kej.12:10-20? Pertama, dalam ayat 1-9 Abram terus menerima janji Tuhan yang berkata: “Aku akan.....” (ayat 2, 3, 7). Tetapi dalam ayat 10-20 tidak ada lagi perkataan itu, sebab Abram tidak lagi berfokus kepada Tuhan, tetapi kepada keadaan sekitarnya (ayat 12-13). Ini terjadi kalau kita sudah lari dari jalur Tuhan. Maka yang kita lihat adalah kesulitan-kesulitan di dalam dunia ini.
Ke dua, dalam ayat 1-9 Abram tidak dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan  why/where/how/when kepada Tuhan, tetapi dia tahu dan dia bersandar sepenuhnya kepada Tuhan. Sedangkan di dalam ayat 10-20 Abram bersandar pada cara-cara manusia (dirinya sendiri) dengan cara menyuruh istrinya berbohong kepada Firaun, bahwa dia adalah adiknya. Memang Sarai adalah saudaranya, dari satu ayah dan ibu yang berbeda. Dan inilah yang terjadi dalam hidup kita.

Ke tiga, perubahan hidup dalam beribadah. Dalam ayat 1-9, kemana pun Abram pergi, di situ dia memanggil Tuhan dan mendirikan mezbah, tetapi dalam ayat 10-20 tidak ada satu kata Tuhan pun disebutkan di sana. Abram tidak lagi memanggil nama Tuhan dan mendirikan mezbah Tuhan. Saudara perhatikan, jika hidup ibadahmu semakin lama semakin turun, engkau sebenarnya tahu ada sesuatu yang tidak beres di dalam hidupmu. Bertobatlah!

Ke empat, perubahan sikap. Dalam ayat 1-9 Abram dipanggil untuk menjadi berkat bagi banyak orang, tetapi dalam ayat 10-20 Abram hanya mau hidup untuk dirinya sendiri. Ketika Abram menyuruh istrinya berbohong, ini bukan bicara mengenai keselamatan dirinya saja, tetapi agar dia mendapatkan berkat-berkat dari Firaun (ayat 13 menyebut agar Abram diperlakukan dengan baik).

Ke lima, perubahan dalam tujuan hidup. Abram dipanggil bukan untuk menjadi berkat bagi banyak orang di tanah Mesir, tetapi Firaun dan warganya mendapat kutukan dari Tuhan. Saudara, mari kita evaluasi hidup kita! Apakah orang lain di sekitar Saudara semakin mendapat berkat karena Saudara berada di tengah-tengah mereka? Ataukah semakin dimurkai oleh Tuhan karena keberadaan Saudara di sana? Apa yang terjadi jika Saudara salah melangkah dan gagal di dalam ujian? Hanya satu jawabnya, yakni ganti haluan (Kej.13:1-4), dimana Abram kembali ke tanah perjanjian. Alkitab mengatakan, jika di dalam hatimu engkau katakan engkau orang berdosa, maka Allahmu itu setia dan adil. Dia bukan hanya bisa mengampuni dosamu, tetapi Dia juga mau dan akan mengampuni dosamu. Pertobatan tanpa satu perubahan adalah satu penipuan. Abram bertobat dan dia kembali memanggil nama Tuhan (Kej.13:4).

Bagaimana dengan hidup kita? Ujian pasti datang dalam hidupmu. Kalau engkau adalah orang Kristen yang hanya beriman dan mengharapkan berkat, engkau adalah orang Kristen murahan yang tidak tahu apa itu arti dan nilai ujian. Tapi jika engkau mau bertumbuh dalam Kristus, pastilah hidupmu diuji. Tuhan katakan, jika ada orang yang tidak mau memikul salib dan menyangkal dirinya, orang itu tidak perlu dan tidak bisa mengikut Dia.
__________________________
Artikel ini diambil dari Ringkasan Kotbah GRII Karawaci - 31.7.2011
(Ringkasan khotbah ini belum dikoreksi oleh pengkhotbah)

Ev. David Tong, Ph.D.

Khotbah "Marta dan Maria" oleh Pdt. Billy Kristanto

Lukas 10:38-42

Di dalam perumpamaan tentang orang Samaria yang baik hati, Yesus menegur seorang ahli Taurat yg hanya bisa berdebat theologis tapi kurang jujur, kurang tulus dan tidak sungguh2 mencari kebenaran. Yesus menganjurkan dia untuk menjadi seorang sesama yang aktif melakukan pertolongan dan peka terhadap kesulitan yang ada di sekitarnya. Gerakannya seperti dari pasif menuju aktif. Ini cerita orang yang hanya bicara saja, tapi tidak pernah melakukan. Yesus mengakhiri cerita ini dengan kalimat yang sederhana yaitu “Pergilah dan perbuatlah demikian.”

Sementara, pada bagian ini, kita seperti melihat gambaran teguran dari aktif menuju kepada pasif. Padahal di dalam perikop sebelumnya, orang yang pasif, didorong supaya aktif melakukan, tetapi dalam bagian ini, orang yang sudah aktif didorong supaya menjadi pasif, diam mendengar Firman Tuhan. Saya percaya gambaran ini agak keliru, karena isunya disini bukan masalah aktif dan pasif, bukan tentang orang yang suka kerja dan orang yg temperamen dasarnya pendiam dan suka mendengarkan. Kalau kita tidak melihat bagian ini dengan jelas, saya percaya, kita akan banyak sekali bingung waktu kita membaca bagian Firman Tuhan yang seolah-olah banyak kontradiksi atau tension.

Kalau kita melihat di dalam pembukaan kalimat ayat 38, kita sudah langsung bisa mengenali, bahwa ini sangat berciri kalimat Lukas. Lukas menggambarkan seluruh perjalanan Yesus sebagai satu perjalanan menuju ke salib (motif perjalanan). Baik dia di Galilea atau di luar Galilea, Yesus berjalan menuju ke salib. Itu adalah fokus yang tidak bisa digeser di dalam kehidupan Yesus. Saya tertarik pada bagian ini, seringkali dikatakan menuju perjalanan, tetapi di tengah-tengah perjalanan masih bisa menyembuhkan orang sakit, singgah di Yerikho bertemu Zakheus, singgah ke satu kampung bertemu Martha dan Maria. Saya percaya, kalau kita mengerti prinsip ini, kita baru mengerti konsep focus yang sebenarnya yang dibicarakan oleh Yesus. Dia tidak memandang salib, seperti memakai kacamata kuda dan lalu mengabaikan yang lain. Model fokus seperti itu, bukan model pelayanan Yesus Kristus. Kita juga tidak mengerti konsep fokus salib seperti pengertian itu. Sebaliknya, Lukas selalu mencatat, meskipun Yesus datang mengunjungi Martha, Maria, Lazarus, menyembuhkan orang buta dan sebagainya, Dia tetap jelas bahwa fokusnya salib. Akan tetapi focus akan salib bukan berarti tidak memperhatikan hal-hal lain disekeliling-Nya. Ada orang yang mengerti fokus secara salah, benar-benar tidak mau gangguan, hanya mau satu itu saja sampai yang lain akhirnya terbengkalai, lalu hidupnya menjadi sempit, reduktif dan tidak ada kelimpahan. Itu bukan pengertian fokus yang dibicarakan disini. Dari kalimat “Yesus dan murid-murid-Nya di dalam perjalanan,” maksudnya sudah pasti menuju salib, “Tibahlah Dia di sebuah kampung.” Sambil punya fokus sambil melihat sangat peka apa yang terjadi di sekeliling-Nya. Lalu Dia masuk ke kampung ini. Sekali lagi ini bukan penundaan salib, sama sekali bukan. Yesus tahu kapan saatnya Dia naik ke salib, dan Dia menggunakan waktu-Nya dengan sangat efisien, termasuk masuk ke kampung ini. Ini bukan kebetulan dan juga bukan buang-buang waktu, bukan hal yang sia-sia.

Di sini dicatat dengan sederhana, “Seorang perempuan yang bernama Martha menerima dia di rumahnya.” Di dalam kultur kuno, salah satu kebajikan yang sangat perlu adalah keramah-tamahan, termasuk juga di dalamnya menyambut orang, membuka pintu rumah. Melakukan keramah-tamahan bukan hal yang sederhana, karena di situ kita harus mempersilakan orang yg seringkali punya kebiasaan sangat berbeda dgn kita. Pada intinya, pada waktu kita membuka rumah untuk orang lain, kita mendapat ‘gangguan’, ada sesuatu yg asing masuk ke dalam lingkaran kehidupan kita dan itu tidak mudah, khususnya bagi mereka yang sangat dididik di dalam kultur bahwa privacy itu penting.

Dalam kultur privacy, didukung oleh theory human rights, setiap orang berhak melakukan segala sesuatu asal jangan mengganggu orang lain, tetapi orang lain juga jangan mengganggu saya. Sulit untuk menjunjung kebajikan membuka pintu rumah. “Saya tidak mengganggu kamu, demikian juga kamu jangan masuk ke dalam kehidupan saya terlalu dalam. Ada lingkarannya dan tolong perhatikan jaraknya, jangan sembarangan masuk. Itu mengotori halaman dan hidup orang saya.” Tetapi Martha bukan orang yang demikian. Ia membuka rumahnya, menerima dan menyambut Yesus dirumahnya. Dan di dalam gambaran seperti ini, sebenarnya wajar kalau dia membuat sesuatu untuk Yesus. Yang tidak ‘wajar’ sebenarnya malahan Maria. Kalau saudara kedatangan tamu, terus dia duduk, saudara juga duduk, tidak menawarkan minum, malahan menunggu dia bicara, agak aneh bukan? Waktu kita melihat secara natural, Martha melakukan hal yang sama sekali ‘normal’ dan sangat ‘wajar’ karena dia melakukan apa yg kebanyakan dari kita mungkin juga akan melakukannya ketika kedatangan tamu. Tetapi mengapa di dalam bagian Firman Tuhan ini seperti menjungkirbalikkan tata karma, yang bukan saja popular pada saat itu, bahkan juga popular sampai zaman kita sekarang?

Maria dikatakan duduk di bawah kaki Yesus. Suatu sikap yg menyatakan penghargaan kpd Yesus sebagai Guru dan kesiapannya untuk diajar. Ini adalah point pertama yg penting, yg membedakan dia dg Marta. Maria menangkap saat itu sebagai saat yang tidak boleh disia-siakan dan dilewatkan, siap sebagai seorang murid yang mau mendengarkan kalimat2 dari Yesus, karena Maria mengerti bahwa ini adalah suatu berkat yg sangat besar. Menangkap kesempatan, merendahkan diri menjadi seorang murid dan menyediakan satu keadaan di mana Tuhan Yesus boleh langsung bicara sebagai Guru yang mengajar.

Meskipun Martha melakukan hal yang sangat ‘normal’ dan ‘wajar’, tetapi dia tidak ada bagian ini. Dia boleh menyambut Yesus tetapi dia tidak menyambut Yesus sebagai Guru. Dia tidak meletakkan dirinya sebagai seorang murid yang sudah siap diajar. Yang ada ialah semacam kesombongan tersembunyi. Mungkin dia melihat Yesus sudah lesu sekali, sehingga mungkin merasa harus melayani-Nya, menyediakan makanan karena Dia sudah kelihatan lapar sekali dan sebagainya. Menolong dan melayani adalah hal yang baik. Tetapi bisa ada satu kesombongan yang terselubung, yang sering kali kita sendiri tidak sadar. Waktu seseorang menolong, dia bisa berada dalam spirit mengasihani, spirit heroic, spirit berada di atas. Kita mungkin akrab dengan kalimat “No one comes to help and to contribute. Everybody comes to learn and to serve” (Stephen Tong), Saya boleh tambahkan sedikit, mungkin agak provokatif, “to serve pun juga bisa dengan spirit contributive!” Martha dikatakan serving. Tuhan tidak mengatakan kamu contribute, tetapi sesungguhnya, waktu dikatakan melayani, spirit Marta adalah spirit membantu. Dia tidak sadar, bahwa sebetulnya Yesus datang di situ untuk melayani dan alangkah baiknya kalau dia sadar sebagai orang berdosa, dia perlu dilayani terlebih dahulu, daripada langsung melayani. Saya tertarik pada terjemahan ESV yang mengatakan, “Martha was distracted with much serving.” Distracted itu bahasa Indonesianya tidak bisa focus. Saudara yang sedang mengerjakan sesuatu yg penting lalu datang hal2 yg mengganggu konsentrasi, itu namanya distraction.

Itu istilah yang dikatakan oleh Yesus Kristus. Bukan hanya sekedar sibuk. Sibuk adalah satu hal. Alkitab bukan berlawanan dengan orang sibuk, tetapi orang yang sibuk, melakukan banyak hal, much serving dan akhirnya distracted, maksudnya kehilangan fokus di dalam apa yg dikerjakannya. Selalu sibuk, namun tidak tahu lagi pelayanannya menunjuk ke mana. Sia-sia juga tidak, karena pekerjaan selalu ada. Karena sibuk, dibilang tidak berarti, hidup toh berarti, tetapi sebetulnya artinya apa juga tidak jelas. Yg jelas adalah setiap hari ada kesibukan. Dalam bahasa aslinya, istilah yang dipake disini adalah “banyak diakonia” (diakonia sbg pelayanan dalam pengertian yang luas). Dipakai istilah yang sangat positif: diakonia. Kritik yg dicatat di sini bukanlah pada kata diakonia-nya, melainkan pada “banyak” yg tidak ada focus.

Yang menarik, di dalam bagian ini, kita juga bisa menyelidiki ciri-ciri orang yang terkena syndrom Martha-wi. Yang pertama, ada perasaan mengasihani diri sendiri. Khas bagi orang yang jatuh ke dalam persoalan seperti ini, ada kalimat, “Tuhan tidakkah Engkau peduli?” Orang yang mengasihani diri tidak ada kekuatan lagi untuk mengasihani orang lain, karena dia berusaha untuk menarik, kalau boleh seluruh kasih yang di dalam dunia ini, kepada dirinya sendiri. Mengasihani diri yang paling parah diakhiri dg bunuh diri. Orang bunuh diri pada dasarnya mengasihani diri sendiri, supaya orang mengatakan, “Jangan! Kami semua mengasihi engkau.” Orang semacam itu benar-benar kasihan/pitiful, karena orang yang seperti itu tidak ada kekuatan lagi untuk mengasihi orang lain dan untuk menikmati serta menghargai anugerah Tuhan yang ada disekelilingnya. Yang ada adalah dia merasa kehidupannya itu sangat kasihan dan sangat butuh perhatian orang lain.

Yang kedua, dia merasa tersendiri. Martha mengatakan, “Orang ini, Maria, left me to serve alone.” Ada kesendirian dalam pengertian yang positif, misalnya saat teduh (solitude). Kita tidak bisa terus berada dlm keramaian, kumpul-kumpul terus, harus ada waktu sendiri. Tetapi kita tidak membicarakan yang ini, kita sedang membicarakan orang yang tidak bisa menikmati berkat persekutuan dengan orang lain. Hidupnya merasa tersendiri. Di dalam kultur modern, ada istilah yang sangat menarik, ‘The Lonely Crowd’. Sebaliknya ada orang yang di dalam keadaan yang mungkin tidak banyak ramai-ramai, tetapi punya kecukupan dan kelimpahan hidup. Orang sibuk umumnya ada satu kebanggaan bahwa hidupnya sangat berarti. Ternyata juga tidak, Martha justru merasa tersendiri. Kegiatan dan aktivitas, tidak mampu untuk menyelamatkan kesendiriannya. Kita mungkin perlu kritis dengan anjuran popular yg mengatakan jika kita kesepian sebaiknya mencoba untuk mencari kegiatan dan kesibukan, supaya kita ada distraction dari ketersendirian kita. Mungkin memang bisa membantu untuk sementara, namun jika kita gagal menangkap inti persoalannya, kita yg melakukan kegiatan sesibuk apa pun juga bisa tetap merasa tersendiri. Yesus tidak menganjurkan terapi seperti itu bagi Martha. Ada persoalan yang lebih dalam.

Yang ketiga, perasaan berbeban berat. Kalau kita melayani Yesus, harusnya melayani dengan sukacita. Martha malah merasa berat. Dia bukan merasa ada kenikmatan dan sukacita, tetapi merasa ini satu beban, sehingga dia mengeluarkan kalimat “Suruhlah dia membantu aku.” Maksudnya dia tidak bisa lagi kerja sendirian seperti ini, harus ada orang lain yang membantu dan sebagainya. Ironis. Tadi kita katakan, “datang dg spirit membantu”, orang yang datang dengan spirit mau membantu, menolong dan merasa dirinya pahlawan membantu orang lain, akhirnya waktu dia mengerjakan, kekuatannya terkuras, capek dan akhirnya mengatakan, “Siapa yang mau tolong saya?” Ternyata dia sendiri yang perlu bantuan. Aneh ya. Itu namanya perendahan orang yang congkak. Alkitab mengatakan, “Orang yang congkak akan direndahkan.” Kita merasa mau menolong orang lain, nanti Tuhan akan merendahkan kita sampai kita sadar, bahwa kita sendiri perlu pertolongan dan bhw kita tidak di dalam posisi menolong orang lain. Pembentukan yang seperti ini menyakitkan.

Ketika kita melakukan hal yang baik, hal-hal yang rohani, ada alat ukur spiritual untuk menilai, yaitu apakah kita merasa lebih merasa berbeban berat, atau menikmati dg sukacita. Kita tidak mengatakan, bahwa tidak ada penyangkalan diri sama sekali. Tentu saja ada saat2 yang seperti kita terpaksa melakukan hal yg baik tersebut, tidak selalu pasti dimulai dg sukacita dan kenikmatan. Hal2 spt demikian selalu membutuhkan penyangkalan diri. Tetapi di dalam penyangkalan diri tsb, setelah kita melakukannya, kita akan mengalami peneguhan dari Tuhan dan sukacita sebagai ganjarannya. Kita malah akan menyesal jika kita tidak mengambil bagian itu. Dari penyangkalan diri, yang tadinya ‘berat’, ketika dilakukan akhirnya berubah menjadi sukacita. Itu adalah konfirmasi bahwa kita tlh melakukan apa yang Tuhan kehendaki. Bukan tidak ada penyangkalan diri, namun bahwa pada akhirnya, kita harus mengalami kenikmatan di dalam pelayanan kita. Kalau kita semakin melayani, semakin uring-uringan, semakin merasa tersendiri, merasa tanggungan berat, bukan hanya dalam pelayanan gerejawi, tetapi juga pelayanan rumah tangga, di tempat pekerjaan dsb, itu adalah sindrom Marthawi. Di dalam pengertian seperti ini, kita harus instropeksi lagi, apakah sesuatu itu adalah bagian yang dipercayakan Tuhan atau tidak.
 
Yang keempat, dia cenderung menjadi super sensitif, lalu ekspresi biasanya adalah menyalahkan orang lain. Ini persis dengan kejatuhan manusia di Kitab Kej. 3. Ketika manusia jatuh ke dalam dosa, ekspresi yang dilontarkan adalah saling menyalahkan satu dengan yang lain. Tidak menutupi kesalahan orang lain, tidak sabar dan saling mengampuni, malahan saling menyalahkan. Menyalahkan orang lain dan tidak ada responsibilitas adalah cara berpikir anak kecil. Waktu seorang menyalah-nyalahkan, pertama dia pasti tidak bisa menutupi kesalahan orang lain. Yang kedua, waktu dia menyalahkan orang lain, dia sendiri juga tidak instropeksi bahwa dia sendiri juga punya bagian di dalam kesalahan itu. Dia tidak peka terhadap kesalahan diri sendiri, tetapi sangat peka dengan kesalahan orang lain. Di dalam Kejadian 3 juga begitu. Bukannya instropeksi, minta pengampunan dari Tuhan, mengakui dan menyesal mengapa tidak membimbing Hawa, padahal sudah tahu Hawa terbujuk, Adam malah melontarkan kesalahannya kepada Hawa. Tuhan yang disalahkan. Tuhan memang yg menambahkan Hawa bagi Adam, akan tetapi, dengan tambahan satu orang itu, Adam sendiri juga harus dewasa dan bertanggung jawab terhadap orang ini, membimbing dan mengasihinya, bukan menyalahkan seperti itu. Melempar tanggung jawab kpd orang lain adalah sikap kekanak-kanakan. Hawa sendiri juga tidak bisa bertanggung jawab, menyalahkan ular, yang sebenarnya juga berarti menyalahkan Tuhan. Tuhan tidak berdebat untuk menanggapi kekanak-kanakan manusia. Tetapi sekali lagi, kita membaca gambaran manusia di dalam ketidak dewasaannya waktu dia tidak bisa instropeksi. Dia tidak bisa menutup kesalahan orang lain, yang ada perasaan beban berat, lalu di dalam keadaan konflik, cenderung menyalahkan orang lain. Dia sendiri tidak mau tanggung jawab, play safe. Martha tidak masuk ke dalam sikap instropeksi diri. Yesus sebenarnya tidak minta apa-apa. Martha sendiri yang terus merasa dibebani. Mungkin ini juga adalah cirri khas yg lain lagi dari sindrom ini: melihat orang lain sebagai beban.

Waktu Naomi, dalam keadaan depresinya, dia tidak bisa melihat penyertaan Ruth itu sebagai sesuatu yang memberkati dan menolong dia. Dia malah melihat Ruth sebagai beban. Ada perasaan over responsible. Tidak bertanggung jawab tidak baik, tetapi kelebihan tanggung jawab juga sering kali menghancurkan kita. Dia merasa segala sesuatu harus dia yang mengerjakan. Demikian juga Martha. Waktu Yesus datang, dia merasa semuanya adalah tanggung jawab dia, dimana dia harus memikul semuanya sampai akhirnya dia meledak dan tidak kuat lagi.

Jawaban Yesus sederhana, akan tetapi mencakup banyak hal, “You are anxious and troubled about many things.” Saya tertarik dengan istilah banyak hal, yang merupakan kontras dengan istilah yang disampaikan Yesus dalam ayat 42, only one thing is necessary. Apakah ini lalu berarti Tuhan Yesus lebih setuju kepada filosofi satu daripada filosofi banyak? Bukan itu poinnya, sama seperti tadi isunya, bukan aktif dan pasif, tetapi ada satu hal yang ingin dinyatakan disini. Tadi kita membahas ttg distraction. Persoalannya bukan pada banyak halnya, tetapi banyak hal yang dikerjakan dengan tidak ada satu fokus yang mengikat, akhirnya banyak hal itu mengalihkan (distraction).

Kita hidup didalam keadaan ekonomi yang tidak menentu. Di dalam keadaan seperti ini, perampingan-perampingan terjadi, akhirnya satu orang harus kerjakan pekerjaan 3 orang. Kita protes juga tidak ada kekuatan, harus taat, kalau tidak akan diberhentikan. Lalu semakin lama, harus bisa semakin banyak, semakin multitasking, semakin bisa jadi renaissance man. Bukankah itu visi yang mulia? Nanti dulu. Renaissance man memang mengagumkan, tetapi itu takaran yang dari Tuhan atau bukan? Di dalam bagian ini, waktu Martha melayani Tuhan, dia sebenarnya melampaui takaran yang Tuhan tetapkan. Tuhan tidak pernah minta bagian itu. Dan waktu melampaui, akhirnya gusar sendiri, tidak ada damai sejahtera dan akhirnya menyalahkan orang lain, merasa berbeban berat dan hidup susah sekali, penuh dengan perjuangan yg tidak perlu dan sebagainya. Banyak hal yang kita kerjakan, betul-betul dari Tuhan atau ini pikiran idealisme kita sendiri? Mungkin sebenarnya bagian orang lain tetapi, mungkin kita sendiri tidak sabar, karena mereka masih perlu banyak belajar dan krn itu melakukan banyak kesalahan, akhirnya beban itu kita ambil juga dengan serakahnya. Setelah ambil bagian orang lain terus uring-uringan. Siapa yang salah ya?

Satu keadaan pembelajaran dan pembentukan bagi kita juga, ketika kita melihat orang lain yang mengerjakan tidak beres. Kita mungkin sangat tergoda untuk mengambilnya. Kita tidak sanggup menyangkal diri di dalam bagian itu, akhirnya tanggung berat mengambil beban yang lain. Agaknya memang sulit bagi kita orang Timur untuk belajar mempercayai orang lain. Kita jelas melihat, bahwa Martha tidak harus mengerjakan bagian ini karena bagian ini bukan bagian yang dipercayakan Tuhan. Karena itu dia juga khawatir dan menyusahkan dirinya sendiri.

Satu hal saja bukan bukan berarti spiritualitas Pietis, yang mengejar kesederhanaan dlm pengertian ketunggalan. Kita tidak masuk ke dalam spiritualitas kesederhanaan seperti itu. Sebaliknya, bagaimana kita, yang hidup di dalam dunia yang penuh kerusakan dan hal yang harus kita atasi serta kerjakan, kita senantiasa punya satu fokus. Waktu kita tidak ada fokus di dalam kehidupan kita, kita tidak jelas yang mengikat dan mempersatukan banyak hal dlm kehidupan ini apa, keanekaragaman ini penataannya bagiamana, untuk apa serta kepada siapa.

Maria tahu Sumber satu-satunya. Dia tahu tempat peristirahatan ini, rahasia kehidupan dan memilih bagian yang terbaik (the good portion). Kalau kita membaca di dalam Mazmur dan Yosua, (khususnya Mazmur), sering kali dikatakan bahwa Tuhan itu sebetulnya adalah bagian kita. Akan tetapi Martha tidak melihat bagian ini. Dia tidak melihat persekutuan dengan Tuhan dan kehadiran Tuhan, sebagai bagian yang seharusnya diberikan juga kepadanya dan buka hanya bagi Maria. Dia malah sibuk mempersiapkan bagian untuk Tuhan. Yang ada di dalam pikirannya adalah bagaimana dia memberikan bagian kepada Tuhan.

Di dalam spiritualitas Reformed kita selalu menekankan apa yg telah Tuhan kerjakan bagi kita, dan bukannya apa yang telah kita berikan pada Tuhan. Adalah suatu kesedihan yg mendalam jika spiritualitas ini menjadi terbalik, yang terjadi justru adalah penekanan apa yang telah kita kerjakan (bagi Tuhan), ya hal2 besar sekalipun! Siapa sih yg sebenarnya melakukan pekerjaan besar? Tuhan atau kita? Despite keindahan kalimat wejangan dari John F. Kennedy (tanyalah apa yg telah kau berikan kpd negaramu dan bukan sebaliknya) dan juga lagu “Nyawa Ku-berikan bagimu, apa Kau beri pada-Ku?” pikiran Reformed harusnya selalu menekankan hal besar apa yang Tuhan sudah lakukan bagi kita. Apa yang Tuhan berikan kepada kita, bukan apa yang kita berikan kepada Tuhan. Pengertian anugerah yg seharusnya mendorong kita untuk melakukan sesuatu untuk Tuhan sbg suatu gerakan natural yg membuat kita mungkin melakukan hal besar, termasuk bagi Tuhan, tetapi jangan tidak mengingat hal besar yang Tuhan lakukan bagi kita. Kita mudah sekali menjadi sombong dan masuk ke spiritualitas menolong Tuhan. Akhirnya kita merasa penting sekali, kalau tidak ada kita semuanya menjadi hancur. Martha jatuh dalam bagian ini. Kapan ada saat kita tidak membutuhkan kehadiran Tuhan di dalam kehidupan kita? Tidak ada saat itu! Kapan ada saat kita bisa melayani Tuhan tanpa terlebih dahulu didorong, dilayani oleh Tuhan? Tidak ada saat itu. Yang ada di dalam kita adlh ‘I need Thee every hour’. I need Thee every second kalau kita boleh katakan. Martha tidak membiarkan dirinya terlebih dahulu ditopang dan diisi oleh Tuhan. Yang ada didalam dirinya adalah terlalu cepat berusaha untuk menolong Tuhan. Di dalam Mazmur 16:5 dikatakan “The Lord is my chosen portion.” Menyangkal diri untuk jadi receptive, itu pun juga adalah gerakan aktif, bukan gerakan pasif. Kita membedakan berserah dan menyerah (surrender and give up). Surrender itu bahasa militer. Waktu kita dikepung, tidak bisa lagi melawan, angkat bendera putih, menyerah lalu menjadi tawanan. Itu aktif bukan pasif. Kita perlu menyangkal diri dan merendahkan diri menjadi tawanan. Itu sama sekali bukan gerakan pasif, itu gerakan sangat aktif, mungkin jauh lebih aktif dari kita yang tidak bisa menahan diri, seperti Martha.

Hal yang baik, yang ada di dalam hidup Maria adalah dia mengenal satu-satunya Sumber kekuatan, yang dari-Nya semua hal mengalir. Waktu kita datang beribadah pada hari Minggu, itu juga pengalaman receptive, pengalaman kita menerima. Bukan kebetulan Yesus mengatakan anak-anak kecil yang mempunyai Kerajaan Sorga dan orang-orang kaya itu akan berhenti tertawa dan tawa mereka akan berubah menjadi tangisan. Orang-orang kaya susah sekali masuk ke dalam Kerajaan Surga. Apa yang menghindarkan orang kaya tidak bisa masuk Kerajaan Allah dibandingkan dengan anak kecil? Salah satu jawaban sederhana adalah anak kecil itu receptive dan mudah sekali menerima anugerah. Orang kaya sangat sulit mengerti (dan mengalami) anugerah. Alkitab mengajarkan, kalau kita mau hidup di dalam Kerajaan Allah dan kita tidak punya spirit receptif, kita tidak mungkin bisa mengerti realita Kerajaan Allah, karena Kerajaan Allah bukan hanya tentang memberi, tetapi juga menerima. Kita jarang membahas bagian ini, karena seolah-olah memelihara sifat kekanak-kanakan. Bagaimana pun kita bisa memberi dan melayani, kita tidak akan pernah keluar dari pengalaman menerima. Tidak ada sesuatu yang kita bisa berikan kepada orang lain yang tidak terlebih dahulu kita terima dari Tuhan. Paulus mengatakan, “Apa yang ada padamu yang tidak kau terima dari Tuhan?” Bisa membagi untuk orang lain, itu juga dari Tuhan. Semua dari Tuhan dan celakalah mereka yang melupakan apa yang mereka terima dari Tuhan, lalu berpura-pura seperti tidak terima dari Tuhan, lalu dengan spirit menolong membagi-bagi.

Hari Sabat, waktu perhentian, adalah pengalaman penerimaan ini. Duduk di bawah kaki Yesus, menikmati kehadiran Tuhan, seolah-olah merupakan suatu pengalaman yang sangat pasif, apalagi bagi kita yg terpolusi oleh kapitalisme, yang maunya berpikir apa yang kita harus raih dan capai di dalam hidup. Di dalam kultur yg sakit seperti ini, kita boleh bertanya: masih adakah pengalaman spiritualitas Maria, spiritualitas duduk di bawah kaki Tuhan, diam, mendengar, menerima dan menikmati perkataan Tuhan?

Ringkasan khotbah 9 Mei 2010

Pengkhotbah: Pdt. Dr. Stephen Tong

Ayat: 1 Yohanes 2:28-29
"Maka sekarang, anak-anakku, tinggallah di dalam Kristus, supaya apabila Ia menyatakan diri-Nya, kita beroleh keberanian percaya dan tidak usah malu terhadap Dia pada hari kedatangan-Nya. Jikalau kamu tahu, bahwa Ia adalah benar, kamu harus tahu juga, bahwa setiap orang, yang berbuat kebenaran, lahir dari pada-Nya."

Kata kebenaran yang ditulis dalam 1 Yohanes 2:29 diterjemahkan dari kata ‚dikaiosune’ dalam bahasa Yunani, yang berarti: keadilan, kebenaran. Kata ini mengandung 5 arti yang besar:

1. lurus, jujur, hati tidak bercabang, perkataan yang keluar dari mulut sesuai dengan maksud yang di dalam hati. orang yang pasti gagal dalam hidupnya, memiliki salah satu dari 3 motivasi berikut dalam hidupnya:
- apa yang dia kerjakan selalu didorong oleh uang
- selalu diri sendiri yang diutamakan
- selalu mencoba untuk menyenangkan manusia, bukannya Tuhan
2. hanya mempunyai satu standard/ukuran dalam berelasi dengan orang lain, tidak memandang akan tingkat sosial dari orang lain tersebut
3. mencari, menghargai dan menyimpan Firman, yaitu kebenaran Allah dalam hidup. Yesus berkata: you shall know the truth and the truth shall set you free. Seneca (filsuf Yunani sejaman Tuhan Yesus) mengatakan: truth will not give you riches, but it will set you free.
4. hidup kudus. Kekudusan jasmaniah: menjaga kesucian tubuh, tidak main pelacur, makan obat terlarang, berzinah. Kekudusan rohaniah: hanya menyembah satu Allah, tidak ada ilah lain dalam hidup.
5. Dikaiosune mengakibatkan keberanian dan ketegasan dalam menghadapi dosa. Dignitas seseorang tergantung atas respons dia terhadap dosa, dan apakah dia sudah terjebak dalam dosa atau dia berjalan dalam kebenaran.

Dalam Alkitab kita melihat banyak orang-orang benar di mata Tuhan, dari Abraham, Ayub, David, Yusuf, Daniel. Kita bisa melihat contoh orang-orang benar ini, ketika mereka mengalami kesulitan, bagaimana reaksi mereka, lain daripada takaran dunia. Di manakah orang benar di jaman kita sekarang ini? Tetapi contoh terutama dari orang benar, adalah Yesus Kristus sendiri. Ia memberikan respons yang lain sekali dari manusia lainnya. Ketika Ia disalib, Ia berkata agar Allah Bapa mengampuni mereka yang menyalibkanNya.

Biarlah kita hidup sebagai orang-orang yang benar di mata Tuhan.

Ringkasan belum dikoreksi oleh pengkhotbah